Oknum Jukir Liar Berulah, Kaca Mobil pecah

Kondisi mobil yang rusak akibat dirusak oknum jukir liat di kawasan Jalan Wahid hasyim 1, Samarinda Utara

Oknum Jukir Liar Berulah, Kaca Mobil pecah

SAMARINDA UTARA. Malam tenang di Jalan Wahid Hasyim 1, Samarinda Utara, berubah menjadi ajang kekerasan pada Minggu (11/8) malam. Sebuah mobil Mitsubishi Expander dengan nomor polisi KT 1764 IG menjadi sasaran amukan juru parkir liar. Insiden ini bermula dari niat baik pengemudi yang justru berakhir dengan perusakan.

Dari informasi, kejadian ini bermula saat Yoshi Medo (48), yang tengah berkendara bersama istri dan dua anaknya, melintasi kawasan tersebut sekitar pukul 22.00 Wita. Saat mereka melintas, terjadi kecelakaan di belakang mobil mereka.

Warga dan jukir liar di sekitar lokasi segera berkerumun, namun perhatian mereka tertuju pada kendaraan yang terlibat kecelakaan, bukan pada korban yang membutuhkan pertolongan.

Merasa prihatin, Yoshi membunyikan klakson dua kali, bermaksud untuk menarik perhatian agar korban kecelakaan mendapatkan bantuan. Namun, aksi sederhana ini justru memicu kemarahan beberapa jukir liar.

Salah satu di antaranya, dengan emosi tak terkendali, meloncat ke kap mobil dan menghancurkan kaca depan dengan tendangan kuat. Ketegangan pun memuncak, membuat penumpang di dalam mobil ketakutan.

Meski beberapa warga berusaha menenangkan situasi, pelaku perusakan segera melarikan diri dari tempat kejadian. Yoshi pun tak tinggal diam dan melaporkan insiden tersebut kepada pihak kepolisian.

“Setelah menerima laporan, kami segera mengamankan satu pelaku dan kini tengah mengejar pelaku lainnya,” ungkap Kapolsekta Sungai Pinang, AKP Rahmad Aribowo, Selasa (13/8).

Selain mengamankan seorang jukir. Pihak kepolisian juga mengamankan barang bukti mobil Expander yang mengalami kerusakan akibat jukir tersebut.

“Kasus ini masih kami dalami dan kembangkan. Dan mencari jukir lainnya yang diduga terlibat dalam peristiwa tersebut,” tukas Kapolsekta.

Peristiwa ini menambah catatan buruk tentang ulah oknum jukir liar di Samarinda. Kondisi ini menyisakan pertanyaan besar tentang keamanan di area publik yang seharusnya menjadi tempat yang nyaman dan aman bagi semua orang. (ket)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *