Pohon Beringin Keraton Solo Simbol Pengayoman Sejak 1745

Pohon beringin yang tumbuh besar di area lingkungan keraton Solo (Istimewa)

SURAKARTA – Di halaman Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, berdiri kokoh sebatang pohon beringin besar yang usianya telah mencapai hampir tiga abad. Pohon itu bukan sekadar bagian dari lanskap istana, melainkan menyimpan makna filosofis yang sangat dalam. Bagi masyarakat Jawa, beringin telah lama dikenal sebagai simbol pengayoman, keteduhan, dan keadilan nilai-nilai luhur yang mencerminkan peran seorang raja sebagai pelindung rakyatnya.

Pemandu wisata Keraton Solo, Mulyanto, menjelaskan bahwa pohon beringin yang ada di lingkungan keraton bukan sembarang pohon. Sejak masa Keraton Kartasura, penanaman beringin telah menjadi tradisi penting yang melambangkan keseimbangan dan perlindungan dari seorang pemimpin kepada masyarakatnya. Ketika pusat kerajaan berpindah dari Kartasura ke Surakarta pada tahun 1745, tradisi itu tetap diteruskan.

“Identik dengan pohon beringin tadi ya, karena pohon beringin sendiri itu merupakan simbol pengayoman,” ujar Mulyanto saat ditemui di area Keraton Surakarta.

Ia mengatakan, penanaman pohon beringin di halaman keraton dilakukan bersamaan dengan berdirinya Keraton Surakarta pada tahun yang sama. Pohon tersebut menjadi saksi bisu perjalanan panjang sejarah kerajaan dan hingga kini masih tumbuh rindang di halaman istana.

“Sejak dari Kartosuro ini, keraton menanam pohon beringin yang dibawa ke sini. Jadi simbolnya pengayoman sejak awal berdirinya keraton,” jelasnya.

Menurut Mulyanto, usia pohon beringin di halaman keraton saat ini sama dengan umur Keraton Surakarta, yakni sekitar 280 tahun. Keberadaannya menggambarkan keteguhan dan ketahanan dalam menghadapi perubahan zaman, layaknya nilai-nilai yang dijaga oleh kerajaan itu sendiri.

“Pohon beringinnya sama dengan umurnya keraton ini. Karena 1745 Keraton Surakarta berdiri, dan pohonnya juga ditanam pada saat perpindahan kerajaan tadi,” ujarnya.

Mulyanto menambahkan, pohon beringin sebagai simbol pengayoman juga ditemukan di berbagai keraton lain di Pulau Jawa, seperti di Keraton Yogyakarta. Ia menyebut bahwa makna yang terkandung tetap sama, yaitu perlambang kesejukan dan keadilan dari seorang pemimpin.

“Di Jogja juga banyak pohon beringin. Jadi maknanya sama saja, simbol pengayoman,” katanya.

Bagi masyarakat Jawa, beringin juga memiliki nilai spiritual. Akar-akarnya yang kuat dan menjalar melambangkan kekokohan, sementara daun-daunnya yang rindang menggambarkan kesejukan serta perlindungan yang menaungi semua orang tanpa pandang bulu.

Kini, pohon beringin di Keraton Surakarta bukan hanya menjadi peninggalan sejarah, tetapi juga simbol abadi tentang makna kepemimpinan, keteguhan, dan pengayoman. Di tengah modernisasi yang terus berjalan, beringin itu berdiri sebagai pengingat akan nilai-nilai luhur budaya Jawa yang tetap hidup hingga hari ini. (cee)

Dapatkan Informasi terbaru hanya di habarhanyar.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *