Gedung Kayu SDN 020 Samarinda Utara Memprihatinkan : Dinding Jebol, Lantai Bolong, dan Banjir Saat Hujan
SAMARINDA UTARA. Di tengah hiruk-pikuk kota, tersembunyi kisah memilukan dari SDN 020, Jalan Karya Baru II, Kelurahan Sempaja Selatan, Kecamatan Samarinda Utara. Sekolah yang seharusnya menjadi tempat menyalakan harapan, justru kini perlahan-lahan rapuh, terkikis oleh waktu.
Bangunan berusia tua yang terbuat dari kayu kini berdiri di ambang kehancuran, dengan dinding-dinding yang jebol, lantai bolong, dan atap bocor yang tak lagi mampu melindungi anak-anak dari derasnya hujan.

Setiap tetes hujan yang jatuh ke atas gedung ini seolah menjadi mimpi buruk bagi para siswa dan guru. Saat langit gelap dan hujan turun, air merembes masuk, menggenangi ruang kelas.
Meja-meja kayu basah, buku-buku terendam, dan siswa-siswa kecil yang asik belajar terpaksa diungsikan ke tempat aman. Beberapa dari mereka bahkan harus duduk di lantai yang berlubang, mencoba menghindari resiko jatuh karena lantai yang sudah hampir ambruk.
“Kami selalu khawatir setiap kali hujan turun,” ujar Herliana, guru olah raga, dengan nada sedih. “Air masuk dari segala penjuru, dinding-dindingnya jebol dan lantainya hampir runtuh. Tapi, kami tidak punya pilihan lain. Ini satu-satunya sekolah yang ada untuk anak-anak di sini.” Imbuhnya.

Pemandangan di dalam kelas lebih mirip zona bencana ketimbang ruang belajar. Dinding kayu yang bolong kaca jendela pecah di berbagai tempat membuat angin bebas berhembus masuk. Sementara itu, atap yang plapon yang bocor seperti memberikan ancaman tiada henti, membuat siswa-siswa belajar dalam ketidakpastian—tak tahu kapan air akan kembali membanjiri kelas mereka.
Dian (10), seorang siswa kelas 5, menceritakan betapa sulitnya belajar dalam kondisi tersebut. “Waktu hujan, air masuk ke mana-mana. Meja dan buku kami basah. Kadang kalau lantainya bolong, kami harus pindah duduk. Ada teman yang pernah terjatuh karena lantainya rapuh,” katanya dengan mata penuh kekhawatiran.
Kerusakan gedung Sekolah yang dibangun sejak tahun 1978 ini bukanlah masalah baru. Dinding-dinding yang dihantam oleh usia dan rayap sudah jebol di berbagai sudut. Lantai papan yang bolong telah membuat siswa-siswa harus berhati-hati setiap kali melangkah, takut lantai akan ambruk di bawah kaki mereka.
Meski pernah dilakukan perbaikan namun tidak bertahan lama karena tidak dilakukan secara permanen. Dinding hanya ditambal sulam.
“Ada yang baru diperbaiki dua bulan lalu. Tapi gampang jebol,” tambah Herliana. “Anak-anak tetap datang ke sekolah dengan semangat, meskipun setiap harinya mereka harus menghadapi ancaman bahaya.” terangya
Para siswa dan guru berharap sekolah mereka dapat di putaran layaknya sekolah yang ada di pinggir jalan kota.
“Mudahan keluhan kami didengar dan perbaikan sekolah ini lebih permanen untuk keselamatan dan kenyamanan saat proses belajar mengajar,” harap Herliana. (ket)


