SAMARINDA. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Samarinda menggelar pertemuan yang diberi nama “Ngopi (Ngobrol Penuh Inspirasi)” pada Sabtu (30/8) pagi. Acara ini melibatkan 78 tim relawan kebencanaan dan tim penyelamat dari berbagai organisasi yang bertugas di Samarinda.
Pertemuan ini diadakan untuk memperkuat komunikasi, meningkatkan kesadaran akan pentingnya kesiapsiagaan bencana, serta memperkenalkan identitas kependudukan digital kepada para relawan.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Samarinda, Suwarso, menekankan bahwa acara ini menjadi momentum penting untuk membangun komunikasi yang lebih baik antara BPBD dan para relawan. “Ngopi ini bukan hanya tempat untuk berbagi ide, tetapi juga untuk menyusun strategi bersama dalam menghadapi berbagai tantangan di lapangan,” kata Suwarso.
Selain diskusi tentang kesiapsiagaan bencana, acara ini juga menghadirkan perwakilan dari Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kota Samarinda. Dalam kesempatan tersebut, sekitar 300 relawan memanfaatkan fasilitas perekaman KTP digital, yang diharapkan dapat mempermudah proses administrasi mereka.
Didik Purwanto, Kepala Bidang Pengelolaan Informasi Administrasi Kependudukan Disdukcapil Samarinda, menyambut baik antusiasme para relawan. “Dengan identitas digital, diharapkan para relawan bisa lebih mudah mengakses layanan administrasi, yang tentunya sangat penting dalam kegiatan kemanusiaan,” ujar Didik.

Diskusi juga mencakup beberapa isu yang dihadapi para relawan, salah satunya terkait perlindungan asuransi. Ketua Info Taruna Samarinda (ITS), Joko Iswanto, mengangkat isu ini dalam diskusi santai tersebut. Dia menekankan pentingnya BPBD untuk mengupayakan realisasi program asuransi yang diusulkan BNPB, dengan harapan batas usia minimal peserta bisa diturunkan menjadi 17 tahun.
“Asuransi yang ada saat ini memang sudah difasilitasi Dinas Damkar, tetapi dengan batas usia minimal 19 tahun. Kami berharap BPBD bisa memperjuangkan agar relawan yang lebih muda juga mendapatkan perlindungan asuransi,” harap Jokis sapaan akrabnya.
Acara “Ngopi” ini diharapkan menjadi awal dari kerjasama yang lebih kuat antara BPBD, relawan kebencanaan, dan Disdukcapil, demi meningkatkan kesiapsiagaan Kota Samarinda dalam menghadapi bencana di masa depan. (ket)



