SIDOMULYO. Siang yang tenang di Jalan Marsda A Saleh, Gang Kehewanan, RT 24, Samarinda Ilir terusik oleh penemuan mengejutkan. seorang bayi mungil, terbaring di kursi depan rumah warga. Warga yang menemukannya tak pernah menduga bahwa di balik senyum polos bayi itu, tersimpan cerita rumit yang penuh dengan pergulatan hati dan ketakutan.
Bayi laki-laki yang ditemukan pada Senin (8/7) sekitar pukul 13.30 Wita itu menjadi awal dari sebuah kisah yang perlahan terbuka ke publik. Setelah penyelidikan intens, polisi akhirnya mengungkap bahwa bayi itu adalah buah cinta dari pasangan DM (24) dan AM (25), yang hubungan mereka diliputi kebingungan dan ketakutan.

Kapolresta Samarinda, Kombes Pol Ary Fadli menjelaskan, Dinda dan Achmad terjebak dalam dilema yang sulit setelah mengetahui DM hamil. Di tengah kepanikan mereka, hadir sosok IN (24), seorang wanita yang telah lima tahun menikah namun belum dikaruniai anak.
Dinda dan Indah bertemu di dunia maya, di mana percakapan singkat berubah menjadi kesepakatan besar. Bayi yang akan dilahirkan DM akan diserahkan kepada IN, memberikan harapan bagi wanita yang lama mendambakan buah hati.
Pada 5 Juli, lahirlah bayi laki-laki dengan berat 2,5 kg di RSUD AW Sjahranie sekitar pukul 23.37 Wita. Tiga hari kemudian, DM yang masih lemah setelah menjalani operasi caesar, meninggalkan rumah sakit dengan bayi di dekapannya, diiringi oleh AM
Di sebuah pertemuan yang telah diatur, DM menyerahkan bayi itu kepada IN, dengan harapan yang besar bahwa sang bayi akan mendapatkan kehidupan yang lebih baik.
Namun, harapan itu seketika berubah menjadi kebingungan. IN, yang awalnya bersedia menerima bayi itu, mendadak gentar ketika membayangkan reaksi suaminya yang menolak adopsi. Di tengah perjalanan pulang, kegelisahan menguasai pikirannya, dan ia memutuskan untuk menciptakan cerita bahwa bayi tersebut ia temukan di di depan rumah warga.

Kebohongan kecil itu terus membesar. Penyelidikan polisi akhirnya mengungkap kebenaran di balik cerita fiksi tersebut, dan nasib para pelakunya pun ditentukan. AM ditangkap di Samarinda, sementara DM, yang bersembunyi di Tanah Grogot, Paser, juga akhirnya diringkus. Keduanya kini harus menghadapi jeruji besi, mempertanggungjawabkan keputusan-keputusan yang diambil dalam keterdesakan.
“Untuk saat ini, IN masih berstatus saksi. Sementara bayi malang itu kini berada dalam perawatan UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak Samarinda.” ujar Kapolresta Samarinda, Kombes Pol Ary Fadli, Kamis (26/9).
Ketika ditemui di Mapolresta, DM mengungkapkan kekecewaannya. Ia merasa dikhianati oleh IN yang telah membuat cerita palsu. “Saya serahkan bayi itu dengan tulus, tanpa paksaan, bahkan tanpa meminta apa-apa,” ucap DM dengan nada getir. “Jika IN tidak mau, saya bisa mengambilnya kembali. Tapi semua ini sudah terlambat.” Imbuhnya.
Di balik tembok penjara, DM dan AM kini terjebak dalam rasa sesal yang mendalam. Bayi yang mereka tinggalkan kini berada dalam perlindungan, jauh dari pangkuan ibunya, sementara kehidupan mereka harus berjalan dengan bayang-bayang kesalahan yang sulit terhapus.
Kisah ini meninggalkan luka dalam hati banyak pihak, mengingatkan kita bahwa ketakutan, bila tak dihadapi dengan bijak, bisa melahirkan kebohongan yang membawa kerumitan tak terbayangkan. (ket)




