Ratusan Masa Aksi Masih bertahan di Depan Kantor Gubenur Kaltim, tanpa di temui oleh gubernur Kaltim Rudi Mas’ud
SAMARINDA — Gelombang demonstrasi yang berlangsung di depan Kantor Gubernur Kalimantan Timur, Jalan Gajah Mada, Samarinda, Selasa (21/4/2026), terus dipadati massa hingga sore hari. Aksi yang diikuti mahasiswa, kelompok masyarakat sipil, hingga komunitas penyandang disabilitas itu berlangsung di bawah pengawalan ketat aparat keamanan.
Sejak siang, peserta aksi memenuhi ruas jalan di depan pintu masuk utama kantor gubernur. Mereka membawa spanduk serta pengeras suara sambil bergantian menyampaikan tuntutan kepada pemerintah daerah. Meski suasana sempat memanas lewat teriakan dan sorakan massa, situasi secara umum masih terkendali.
Petugas kepolisian membentuk barikade tepat di depan pagar kantor gubernur untuk mencegah massa masuk ke area dalam. Selain personel Dalmas, aparat Brimob Polda Kaltim juga terlihat siaga dengan perlengkapan pengendalian massa lengkap. Sementara pasukan TNI ditempatkan di bagian belakang gedung sebagai langkah antisipasi apabila situasi berkembang.
Hingga sekitar pukul 16.39 Wita, Rudy Mas’ud belum tampak hadir menemui para demonstran. Ketidakhadiran orang nomor satu di Kaltim itu memicu kekecewaan dari peserta aksi yang sejak awal berharap dapat menyampaikan aspirasi secara langsung.
Salah satu suara paling lantang datang dari Veronica, perempuan yang mengaku mewakili kelompok difabel. Dalam orasinya, ia menyinggung polemik pengadaan mobil dinas mewah yang belakangan ramai diperbincangkan masyarakat.
“Jangan menganggap masyarakat mudah percaya begitu saja. Kalau sesuatu sudah dibeli, apakah benar bisa dibatalkan begitu saja? Kami datang ke sini karena ingin kejelasan, bukan sekadar janji,” ucap Veronica di hadapan massa.
Ia mengatakan keikutsertaannya dalam aksi tersebut menjadi bentuk kegelisahan kelompok penyandang disabilitas terhadap kondisi daerah saat ini. Menurutnya, komunitas difabel juga berhak menyampaikan pendapat dan memperjuangkan kepentingan masyarakat.
“Saya hadir di sini bukan untuk diri sendiri. Saya membawa suara teman-teman difabel yang juga merasakan dampak dari kebijakan pemerintah. Ini mungkin pertama kalinya penyandang disabilitas ikut turun langsung dalam aksi sebesar ini,” katanya.
Veronica juga meminta pemerintah daerah lebih peka terhadap kebutuhan masyarakat dibandingkan mengutamakan kepentingan fasilitas pejabat.
“Kami ingin pemerintah benar-benar memikirkan rakyat. Kalau hak masyarakat belum terpenuhi, jangan hanya sibuk dengan pencitraan dan program yang tidak dirasakan langsung,” tegasnya.
Orasi demi orasi terus berlangsung hingga petang. Massa tetap bertahan di depan pagar kantor gubernur sambil menunggu kemungkinan adanya perwakilan pemerintah yang bersedia menemui mereka. Sementara aparat keamanan terus melakukan penjagaan guna memastikan aksi tetap berjalan aman dan kondusif. (dtg)




