Bekerja, 16 Bangunan Terbakar
SUNGAI PINANG. Kebakaran hebat melanda permukiman padat penduduk di Jalan Lambung Mangkurat, Gang Mawar dan Cempaka, RT 06, Kelurahan Sungai Pinang Dalam, Kecamatan Sungai Pinang, Sabtu (26/10) siang. Kebakaran ini menghanguskan 16 bangunan berikut harta benda yang tidak dapat diselamatkan.

Kebakaran terjadi sekitar pukul 12.10 Wita, ketika sebagian besar penghuni bangunan tengah bekerja. Ketua RT setempat, Heri Hardani, mengungkapkan, api diduga pertama kali muncul dari bangunan bangsal dua pintu di dalam Gang Mawar. Api kemudian merambat cepat ke bangunan lain yang sebagian besar terbuat dari kayu.
“Saat dikabari warga, api sudah membesar dan menyebar cepat. Sebagian besar warga yang tinggal di sini adalah penyewa, jadi mereka panik dan berlarian menyelamatkan diri begitu mengetahui kebakaran terjadi,” kata Heri.
Di tengah kepanikan, warga sempat mencoba memadamkan api dengan alat seadanya, seperti ember dan selang air kecil. Namun, usaha mereka tidak mampu menahan laju api yang kian membesar. Beberapa warga berusaha menyelamatkan barang berharga mereka, namun hanya sedikit yang bisa diselamatkan.
“Banyak warga yang bekerja saat kebakaran terjadi, sehingga sebagian besar barang yang ada di dalam rumah tidak bisa diselamatkan. Mereka sangat terpukul, kehilangan harta benda yang telah lama dikumpulkan,” kata Heri dengan nada prihatin.
Menanggapi laporan kebakaran, Dinas Pemadam Kebakaran (Disdamkar) Samarinda segera mengerahkan delapan posko pemadam dan puluhan personel untuk menuju lokasi.
Sekretaris Disdamkar Samarinda, Herry Nurdin mengatakan, mereka menerima laporan kebakaran pada pukul 12.10 Wita dan segera melakukan tindakan cepat untuk mencegah api agar tidak menyebar lebih luas.
“Kebakaran ini terjadi di kawasan padat penduduk, sehingga risiko meluasnya api sangat tinggi. Kami segera mengerahkan delapan posko pemadam dibantu relawan yang turut serta di lokasi,” ungkap Herry.
Proses pemadaman berjalan cukup sulit. Jalan menuju lokasi kebakaran yang sempit menjadi kendala utama, sehingga truk-truk pemadam kebakaran harus parkir cukup jauh dan selang harus ditarik panjang untuk mencapai titik api.
Selain itu, banyaknya warga yang menonton di sekitar lokasi kebakaran turut menghambat pergerakan petugas.
“Akses jalan yang sempit sangat menyulitkan tim kami, terutama truk-truk besar untuk mencapai titik api. Selain itu, banyaknya warga yang menonton membuat mobilisasi kami menjadi lebih lambat,” ujar Herry.
Api akhirnya berhasil dipadamkan sekitar satu jam kemudian, setelah petugas dan relawan berjibaku di lapangan.
Total ada 16 bangunan yang hangus terbakar, terdiri dari beberapa rumah tunggal dan bangsal yang disewa oleh warga sekitar. Selain itu, kebakaran ini juga menyebabkan kerusakan pada dua rumah lain yang berada di dekat titik kebakaran.
Mengenai penyebab kebakaran, Disdamkar Samarinda masih belum bisa memastikan. Berdasarkan keterangan warga setempat, dugaan sementara mengarah pada korsleting listrik yang terjadi di bangsal tempat api pertama kali muncul. Namun, untuk memastikan penyebab kebakaran, pihak Disdamkar akan melakukan penyelidikan lebih lanjut.
“Untuk penyebab pastinya, kami belum bisa menyimpulkan karena masih dalam penyelidikan. Nanti tim khusus akan melakukan investigasi untuk mencari penyebab kebakaran ini. Yang pasti, kami pastikan tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini,” tambah Herry.
Sementara itu, para korban kebakaran kini harus kehilangan tempat tinggal dan harta benda mereka. Banyak dari mereka yang hanya bisa menyelamatkan diri dengan pakaian di badan, tanpa sempat menyelamatkan harta benda lainnya.
Beberapa korban mengungkapkan bahwa mereka berharap adanya bantuan dari pemerintah dan masyarakat setempat untuk bisa membangun kembali tempat tinggal mereka yang hangus terbakar.
Herry menekankan pentingnya kewaspadaan warga terhadap risiko kebakaran, terutama di kawasan padat penduduk dan bangunan semi-permanen. Ia juga mengimbau agar warga lebih berhati-hati dalam penggunaan listrik dan selalu memperhatikan kondisi kabel atau perangkat listrik yang digunakan di rumah.
“Permukiman padat penduduk dengan bangunan semi-permanen memang rentan terhadap kebakaran. Kami mengimbau agar warga selalu memeriksa instalasi listrik dan berhati-hati dalam menggunakan alat-alat elektronik yang bisa memicu korsleting listrik. Ini penting, terutama di daerah yang susah dijangkau kendaraan pemadam,” tegas Herry. (ket)




