SAMARINDA — Sebanyak 185 kejadian kebakaran tercatat terjadi di Kota Samarinda sepanjang tahun 2025. Jumlah ini menunjukkan penurunan dibandingkan tahun 2024 yang mencapai 266 kejadian, atau turun sekitar 30,45 persen. Meski begitu, kebakaran masih menjadi ancaman serius bagi keselamatan warga dan harta benda di ibu kota Provinsi Kalimantan Timur.
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Samarinda, Hendra AH, mengatakan penurunan angka kebakaran ini menunjukkan hasil dari upaya mitigasi dan peningkatan kesadaran masyarakat. Namun, risiko kebakaran tetap tinggi dan memerlukan kewaspadaan bersama.
“Total kejadian kebakaran di tahun 2025 tercatat 185 kejadian. Ini menurun cukup signifikan dibandingkan tahun 2024 yang sebanyak 266 kejadian,” ujar Hendra AH, Rabu (17/12/2025).
Berdasarkan data Disdamkartan, penyebab kebakaran paling dominan masih disebabkan korsleting listrik atau arus pendek. Selain itu, kelalaian masyarakat seperti meninggalkan kompor menyala atau kebocoran gas elpiji juga menjadi faktor pemicu.
“Penyebab terbanyak masih akibat korslet listrik. Selebihnya karena kompor yang ditinggalkan atau kebocoran gas,” jelas Hendra.
Dari sisi waktu kejadian, bulan Juli menjadi yang tertinggi dengan 25 kebakaran, diikuti Agustus sebanyak 21 kejadian. Bulan Maret dan Juni masing-masing tercatat 18 kejadian, November 17 kejadian, Januari 16 kejadian, Februari dan April 14 kejadian, Mei 13 kejadian, Oktober 9 kejadian, serta periode Oktober hingga awal Desember sekitar 10 kejadian.
Untuk menekan angka kebakaran, Disdamkartan Kota Samarinda terus mengedepankan upaya mitigasi sejak dini, tidak hanya penanganan reaktif saat kebakaran terjadi. Edukasi, sosialisasi, dan simulasi kebakaran menjadi langkah penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat.
“Kebakaran itu bukan hanya soal pemadaman. Yang paling penting adalah bagaimana kita melakukan mitigasi pengurangan risiko melalui sosialisasi, edukasi, dan simulasi kepada masyarakat,” tegas Hendra.
Ia juga menyoroti rendahnya kesadaran sebagian warga terkait keselamatan, seperti tidak tersedianya alat pemadam api ringan (APAR) dan menganggap remeh potensi bahaya kebakaran.
“Banyak yang masih menganggap sepele. Ketika kebakaran terjadi, mereka panik dan akhirnya api membesar. Intinya, masyarakat harus sadar dulu tentang bahaya kebakaran,” tutup Hendra AH. (cee)




