Samarinda — Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Samarinda memberikan penjelasan setelah muncul laporan mengenai seorang siswa SD di Samarinda Seberang yang mengalami patah tulang kaki saat berada di lingkungan sekolah. Insiden tersebut melibatkan dua siswa yang sedang bermain, dan salah satu tendangan yang terlontar tidak sengaja menyebabkan korban mengalami cedera serius.
Kejadian ini menimbulkan kekhawatiran orang tua murid, terutama karena berlangsung di jenjang pendidikan dasar yang seharusnya menjadi tempat yang aman bagi anak-anak dalam belajar dan bersosialisasi. Informasi awal yang diterima Disdikbud menunjukkan bahwa peristiwa tersebut bermula dari aktivitas bermain yang biasa dilakukan siswa pada jam istirahat.
Kepala Disdikbud Samarinda, Asli Nuryadin, menjelaskan bahwa anak-anak usia sekolah dasar belum sepenuhnya memahami konsep kekerasan maupun dampak dari tindakan fisik yang mereka lakukan. Menurutnya, dorongan atau tendangan sering dianggap bagian dari permainan, meskipun dapat berujung pada insiden yang tidak diinginkan.
“Di usia mereka, anak-anak masih melihat aktivitas fisik sebagai bagian dari permainan. Mereka belum sepenuhnya menyadari mana perilaku yang berbahaya bagi temannya,” kata Asli.
Ia menegaskan bahwa dari laporan yang diterima, kejadiannya berlangsung spontan dan tidak menunjukkan adanya unsur kesengajaan untuk melukai.
“Situasinya terjadi cepat saat bermain, dan salah satu anak mengalami patah tulang akibat tendangan tersebut,” ujarnya.
Pihak sekolah langsung menghubungi keluarga kedua siswa dan mengadakan mediasi. Pertemuan berlangsung kondusif dan menghasilkan kesepakatan secara kekeluargaan. Orang tua anak yang menendang menyatakan kesediaannya membantu pemulihan korban.
“Sekolah telah mempertemukan pihak-pihak terkait. Mediasi berjalan baik dan tidak ada tuntutan hukum,” tambah Asli.
Walaupun masalah sudah diselesaikan, Disdikbud menilai kejadian ini sebagai pengingat bahwa pengawasan saat anak beraktivitas di luar kelas perlu ditingkatkan. Disdikbud meminta sekolah memperketat pemantauan selama jam istirahat dan memastikan siswa mendapat pembinaan mengenai cara bermain yang aman.
“Kami berharap guru dan orang tua bisa lebih aktif mengawasi dan mengarahkan anak agar kejadian serupa tidak terulang,” pungkasnya. (cee)




