PJ Gubernur dan Wali Kota Samarind bersepakat atasi banjir di kawasan Damahuri, Sungai Pinang
SUNGAI PINANG. Masalah banjir yang kerap melanda Samarinda, khususnya di Jalan Damanhuri, Gang Ogok, Kelurahan Mugirejo, Kecamatan Sungai Pinang memantik perhatian serius dari Wali Kota Samarinda, Andi Harun, dan Penjabat (PJ) Gubernur Kalimantan Timur, Akmal Malik. Sabtu (11/1) siang.
Kedua pemimpin daerah tersebut melakukan tinjauan lapangan di kawasan ini untuk menegaskan komitmen mereka terhadap solusi jangka panjang berupa pembangunan kolam retensi.

Dalam keterangannya, Wali Kota Samarinda, Andi Harun, menjelaskan bahwa kawasan Damanhuri memiliki potensi besar untuk dijadikan model mitigasi banjir yang inovatif. Ia mengusulkan agar lahan seluas 12 hektare di kawasan tersebut, yang semula direncanakan untuk pembangunan kantor BPBD Kaltim, dialihkan untuk membangun kolam retensi.
“Kawasan ini sangat strategis untuk menampung air hujan dengan intensitas tinggi. Kolam retensi akan menahan air sementara waktu sebelum dialirkan ke saluran drainase setelah hujan reda. Dengan cara ini, genangan air yang selama ini kerap terjadi di permukiman dan jalan dapat diminimalkan,” ungkap Andi Harun.
Kolam retensi dirancang sebagai solusi teknis dengan sistem pompanisasi yang memungkinkan air dilepaskan secara bertahap ke saluran drainase. Sistem ini dianggap lebih efisien dibandingkan opsi kanal atau reservoir yang sulit diterapkan di kawasan dengan tingkat kepadatan pemukiman tinggi.
Selain membangun kolam retensi, Andi Harun menekankan bahwa penataan dan pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) juga menjadi komponen utama dalam strategi ini. “Kami berencana bekerja sama dengan Balai Wilayah Sungai (BWS) untuk memastikan pengelolaan DAS dilakukan secara terpadu. Upaya ini mencakup normalisasi sungai, perbaikan tanggul, hingga penguatan infrastruktur saluran air di sekitar kawasan Damanhuri,” jelasnya.
Pembangunan kolam retensi di kawasan Damanhuri memerlukan kerja sama erat antara Pemkot Samarinda dan Pemprov Kaltim. Lahan yang akan digunakan merupakan aset milik Pemprov, sehingga perlu ada langkah konkret untuk memastikan proses pembangunan dapat berjalan lancar.
“Kami telah sepakat dengan PJ Gubernur untuk membeli lahan ini. Dengan pembelian langsung, kami bisa mempercepat proses pembangunan tanpa harus menunggu hibah yang membutuhkan waktu lama,” ujar Andi Harun.
PJ Gubernur Kaltim, Akmal Malik, turut mendukung penuh rencana ini. Ia menyatakan bahwa keberadaan kolam retensi di kawasan Damanhuri akan menjadi bagian penting dari sistem pengelolaan air di Samarinda.
“Selain kolam retensi utama, kami juga merencanakan pembangunan kolam tambahan di kawasan hilir untuk menahan limpasan air yang mengalir ke Sungai Pinang. Dengan adanya kolam-kolam ini, debit air yang menggenangi permukiman dapat dikendalikan secara lebih efektif,” ujar Akmal.
PJ Gubernur menegaskan bahwa pembangunan kolam retensi tidak hanya menjadi solusi sementara tetapi juga investasi jangka panjang bagi masyarakat. “Tujuan utama kami adalah memastikan bahwa banjir tahunan yang selama ini menjadi momok bagi warga Damanhuri tidak terjadi lagi. Kolam retensi ini merupakan langkah awal dari serangkaian strategi pengelolaan air yang terintegrasi,” katanya.
Menurut Akmal, kolam retensi juga akan dirancang untuk mendukung pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan. Selain berfungsi sebagai penampung air, kolam ini juga akan dilengkapi dengan ruang hijau, taman kota, dan fasilitas publik lainnya, sehingga memberikan manfaat tambahan bagi warga.
Meski menjadi solusi yang menjanjikan, pembangunan kolam retensi ini tidak lepas dari tantangan. Beberapa di antaranya adalah kebutuhan pendanaan yang besar, proses pembebasan lahan, serta penyesuaian desain teknis dengan kondisi lapangan.
“Kami berkomitmen untuk memastikan semua tantangan ini dapat teratasi. Dukungan pemerintah pusat dan partisipasi masyarakat sangat penting untuk merealisasikan proyek ini,” ujar Andi Harun.
Melalui sinergi antara Pemkot Samarinda dan Pemprov Kaltim, diharapkan pembangunan kolam retensi ini dapat menjadi langkah konkret dalam mengatasi banjir yang selama ini menjadi permasalahan utama di Samarinda. Selain itu, proyek ini juga diharapkan dapat menjadi model bagi daerah lain dalam mengembangkan infrastruktur pengelolaan air hujan yang terintegrasi dan berkelanjutan.
“Kami optimistis bahwa kolam retensi ini akan memberikan manfaat besar bagi masyarakat, baik dari sisi mitigasi banjir maupun peningkatan kualitas lingkungan,” tutup Akmal Malik.
Dengan berbagai upaya yang telah direncanakan, proyek kolam retensi Damanhuri diharapkan menjadi solusi nyata untuk mengakhiri banjir yang telah lama menjadi tantangan bagi masyarakat Samarinda. (ket)



