Suasana setelah berbuka puasa di Kampung Ramdan Temindung Samarinda (Istimewa)
SAMARINDA — Azan magrib baru saja usai, namun suasana di Kampung Ramadan Temindung belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Lampu-lampu tenda tetap menyala terang, aroma gorengan dan hidangan berbuka bercampur dengan semilir angin malam. Di sudut lain, alunan musik religi terdengar pelan, sementara warga masih terus berdatangan. Di Kelurahan Bandara, Kecamatan Sungai Pinang, Kota Samarinda, Ramadan tahun ini hidup lebih lama—bahkan hingga menjelang sahur.
Kampung Ramadan Temindung bukan sekadar pasar takjil musiman. Selama 23 hari, sejak 21 Februari hingga 11 Maret 2026, kawasan ini menjelma menjadi ruang pertemuan warga dan panggung bagi pelaku UMKM. Sebanyak 60 stan bazar berdiri berjajar, menghadirkan ragam kuliner, produk kreatif, hingga kebutuhan Ramadan.
Di antara deretan stan itu, ada sekitar 30 pelaku UMKM yang terlibat. Sepuluh di antaranya merupakan binaan warga sekitar yang mendapat pendampingan, mulai dari pengurusan sertifikat halal, Nomor Induk Berusaha (NIB), hingga penggunaan QRIS bekerja sama dengan perbankan. Bagi sebagian pelaku usaha kecil, ini bukan hanya kesempatan berjualan, melainkan langkah awal naik kelas.
Ketua Pelaksana, Agung Gunawan Wibisono, menyebut konsep ini memang dirancang berbeda. Ia ingin Kampung Ramadan menjadi ikon baru yang tak hanya ramai saat menjelang berbuka.
“Total acara sekitar 23 hari sampai 11 Maret 2026. Kita ingin UMKM lokal punya satu wadah lagi. Di sini bukan cuma orang datang cari untuk buka puasa, tapi juga bisa untuk sahur,” ujarnya, Sabtu (21/2/2026).
Rangkaian kegiatan pun disusun untuk menjaga denyut itu tetap hidup. Gerakan Sahur menjadi pembuka, melibatkan peserta dari Samarinda Seberang dan Palaran. Pekan kedua akan diramaikan Halif Fashion Festival dengan sekitar 20 desainer dari Berau, Sangatta, Balikpapan, dan Samarinda yang menampilkan karya busana muslim. Lalu di pekan ketiga, lomba lari malam yang rencananya dibuka Kapolres akan disambung dengan Sahur On The Road.
“Tahun kemarin pembagian sahur sekitar 2.000 kotak. Mudah-mudahan tahun ini bisa lebih banyak lagi,” kata Agung.
Tak hanya urusan perut dan hiburan, kepedulian sosial juga dihadirkan melalui peluncuran Zakat Drive Thru bersama Baznas Kota Samarinda. Warga dapat menunaikan zakat dan sedekah dengan lebih praktis. Di lokasi yang sama, tersedia penukaran uang baru dari Bank Indonesia, beras Bulog, hingga bursa otomotif dan motor listrik—membuat kawasan ini terasa seperti mini pusat aktivitas Ramadan.
Kegiatan ini diinisiasi oleh Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) dengan melibatkan seluruh RT sekitar agar nuansa kampung tetap terasa.
Kepala Dinas Pariwisata Kaltim, Ririn Sari Dewi, melihat Kampung Ramadan Temindung sebagai contoh kolaborasi komunitas yang patut diapresiasi.
“Ini kerja sama dengan HIPPI. Dengan adanya efisiensi, kita harus berinovasi, event tetap ada dan pergerakan ekonomi kreatif tetap berjalan. Kami support sistemnya,” ujarnya.
Menurutnya, antusiasme masyarakat menjadi modal penting untuk keberlanjutan kegiatan ini. “Ini kesempatan memutar roda ekonomi pelaku ekonomi kreatif kita di Kalimantan Timur. Kalau komitmennya kuat, semoga bisa sustainable,” katanya.
Di Temindung, Ramadan tak hanya tentang menunggu azan magrib. Ia menjadi ruang kebersamaan, tempat usaha kecil tumbuh, dan denyut kehidupan yang terus bergerak—dari senja hingga sahur.




