BPBD Samarinda Siaga Hadapi Ancaman Karhutla Kemarau

Kepala BPBD kota Samarinda suwarso

 

Habarhanyar.com, Samarinda— Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Samarinda meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi musim kemarau panjang dan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang diprediksi mencapai puncaknya pada Agustus 2026. Langkah antisipasi dilakukan di tengah kondisi cuaca yang masih tidak menentu dan hujan yang masih kerap turun di sejumlah wilayah Kota Samarinda dalam beberapa hari terakhir.

Kepala BPBD Kota Samarinda, Suwarso mengatakan, berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kemarau tahun ini sebenarnya telah dimulai sejak Maret 2026. Namun, kondisi geografis Samarinda yang berada di kawasan garis khatulistiwa membuat hujan masih berpotensi terjadi meskipun sudah memasuki periode kemarau.

“Menurut prediksi BMKG, kemarau ini akan mencapai puncaknya di bulan Agustus dan sudah dimulai sejak Maret. Namun Samarinda yang berada di garis khatulistiwa masih memungkinkan terjadi hujan walaupun dalam periode kemarau,” ujar Suwarso, Minggu (17/5/2026).

Menurutnya, kondisi tersebut membuat BPBD harus tetap siaga terhadap dua potensi bencana sekaligus, yakni kebakaran lahan akibat cuaca panas dan banjir akibat intensitas hujan yang masih cukup tinggi.

Sebagai langkah antisipasi, BPBD Samarinda bersama Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur dan sejumlah instansi terkait telah melaksanakan gladi kesiapsiagaan penanggulangan karhutla. Kegiatan itu dilakukan untuk memastikan kesiapan personel, peralatan, hingga pola koordinasi antarinstansi apabila terjadi kebakaran maupun bencana lainnya.

Suwarso menjelaskan, pihaknya juga memperkuat koordinasi dengan Dinas Pemadam Kebakaran, relawan kebencanaan, hingga desa tangguh bencana agar penanganan titik api dapat dilakukan secara cepat sebelum meluas.

“Kami membangun kolaborasi dengan berbagai perangkat daerah, damkar, relawan, hingga desa tangguh bencana. Harapannya ketika ada titik api kecil bisa segera ditangani agar tidak meluas,” katanya.

Selain itu, BPBD Samarinda turut memanfaatkan sistem pemantauan digital untuk mendeteksi potensi kebakaran sejak dini. Pemantauan titik panas dilakukan melalui aplikasi Sipongi dan sejumlah sistem monitoring lainnya guna memudahkan petugas mengetahui lokasi yang berpotensi terjadi karhutla.

Di sisi lain, BPBD juga menaruh perhatian terhadap potensi banjir yang masih mengancam akibat hujan dalam beberapa hari terakhir. Pemerintah Kota Samarinda disebut telah menginstruksikan perangkat daerah terkait melakukan pembersihan drainase dan saluran air dari endapan lumpur maupun gulma agar aliran air tetap lancar dan tidak memicu genangan.

Tak hanya itu, ancaman kiriman asap dari wilayah lain seperti Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat juga menjadi perhatian pemerintah daerah. Untuk mengantisipasi dampak kabut asap, BPBD bersama instansi terkait menyiapkan langkah mitigasi berupa pemantauan kualitas udara hingga pembagian masker kepada masyarakat apabila kondisi udara memburuk.

“Kalau kualitas udara berisiko, masyarakat harus segera menggunakan masker,” pungkas Suwarso. (dtg)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *