Aksi Demo Mahasiswa Berakhir ricuh

 

Mahasiswa, Tolak Revisi UU Pilkada serta Politik Dinasti Jokowi

SAMARINDA. Unjuk rasa di depan Kantor DPRD Kalimantan Timur yang berlokasi di Jalan Teuku Umar, Sungai Kunjang, Jumat (23/8) yang awalnya tertib berubah ricuh. Massa dari berbagai elemen mahasiswa yang menolak revisi UU Pilkada serta politik dinasti Jokowi terlibat bentrok dengan aparat keamanan yang bertugas.

Massa aksi yang mencoba merangsek masuk ke halaman gedung wakil rakyat tertahan barikade aparat. Massa kemudian melakukan pembakaran tepat di depan pintu gerbang. Sesekali terlihat lemparan dari arah massa ke dalam gedung yang dijaga petugas.

Saat hari mulai gelap. Dan massa tak kunjung membubarkan diri. Tindakan tegas pun dilakukan. Petugas berupaya membubarkan massa dengan menyemprotkan water canon. Massa pun berhamburan menyelamatkan diri.

Kapolresta Samarinda, Kombes Pol Ary Fadli menjelaskan, dalam kejadian tersebut, seorang anggota polisi mengalami luka serius setelah setelah terkena lemparan bom molotov yang dilontarkan oleh demonstran.

Selain itu, seorang polisi lainnya terluka di bagian bawah mata akibat hantaman batu yang dilemparkan massa aksi.

“Pengamanan sebetulnya berjalan lancar pada awalnya. Kami telah berupaya memfasilitasi semua tuntutan pengunjuk rasa di Kantor DPRD Kaltim,” kata Ary

“Bahkan, beberapa anggota dewan telah hadir untuk menemui mereka. Namun, sayangnya komitmen yang telah disepakati tidak dipegang oleh massa, yang kemudian berujung pada tindakan anarkis,” imbuhnya.

Tak hanya molotov dan batu, massa juga kedapatan membawa senjata tajam berupa pisau, memperparah situasi yang sudah memanas. Saat ini, pihak kepolisian tengah melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk mengidentifikasi pelaku yang membawa senjata berbahaya tersebut.

Di tengah ketegangan yang memuncak, Kapolresta mengingatkan pentingnya menjaga sikap santun dan tertib dalam menyampaikan aspirasi.

“Kami mengimbau agar setiap aspirasi disampaikan dengan cara yang tertib dan damai, demi menjaga citra Kota Samarinda sebagai kota yang beradab dan aman,” ujarnya.

Meski menghadapi situasi yang berpotensi membahayakan, pihak kepolisian tetap mengedepankan pendekatan humanis dalam menangani massa.

“Pendekatan humanis adalah prioritas kami. Kami berharap semua pihak yang terlibat dapat memahami bahwa kami berusaha keras untuk mengimbau massa agar membubarkan diri dengan tertib,” tegasnya.

Aksi demonstrasi yang berlangsung akhirnya berhasil dibubarkan untuk menghindari dampak lebih besar terhadap aktivitas warga lainnya. (ket)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *