SAMARINDA – Suasana panik menyelimuti kawasan Jalan Cipto Mangunkusumo, Kelurahan Simpang Tiga, Kecamatan Loa Janan Ilir, Kota Samarinda, setelah seorang anak laki-laki berusia 7 tahun bernama Ajam dilaporkan tenggelam di perairan Sungai Mahakam, Senin (26/1/2026) sekitar pukul 10.00 WITA. Hingga sore hari, keberadaan korban masih belum diketahui.
Kejadian bermula saat korban bermain di sekitar belakang rumahnya yang berdekatan langsung dengan tepian sungai. Menurut keterangan saksi mata Sarinem, anak tersebut terlihat berada di sungai seorang diri. Tak lama kemudian, Sarinem mendengar teriakan minta tolong dan melihat korban berusaha bertahan di permukaan air.
“Saya lihat anak itu melambaikan tangan minta tolong. Kejadiannya cepat sekali, tidak lama setelah itu langsung tenggelam,” ujar Sarinem.
Ia menambahkan, korban sempat muncul ke permukaan dengan bantuan jerigen yang biasa digunakan anak-anak untuk berenang. Namun, karena diduga tidak memiliki kemampuan berenang, korban kembali tenggelam dan hilang dari pandangan.
“Sempat timbul sebentar, pakai jerigen, tapi langsung hilang. Sepertinya memang tidak bisa berenang,” katanya.
Sarinem mengaku tidak mengenal korban secara pribadi. Ia hanya mengetahui korban masih duduk di bangku kelas 1 sekolah dasar. Biasanya, anak-anak berenang di lokasi tersebut secara beramai-ramai, namun saat kejadian korban terlihat sendirian.
Melihat kondisi itu, Sarinem langsung berteriak memanggil warga sekitar agar memberikan pertolongan. Sejumlah warga berdatangan ke lokasi, namun korban sudah tidak terlihat di permukaan air.
Sementara itu, Koordinator Pos SAR Samarinda, Mardi Sianturi, menjelaskan bahwa laporan kejadian diterima Basarnas sekitar pukul 11.00 WITA. Tim SAR gabungan kemudian langsung dikerahkan untuk melakukan pencarian.
“Kami menerima laporan kejadian membahayakan manusia terhadap satu orang anak atas nama Ajam, umur tujuh tahun. Setelah laporan masuk, kami segera menuju lokasi dan melakukan operasi SAR,” kata Mardi.
Ia menjelaskan, pada hari pertama pencarian, tim SAR fokus melakukan penyelaman di sekitar lokasi kejadian perkara. Apabila penyelaman belum membuahkan hasil, pencarian akan dilanjutkan dengan metode penyisiran.
“Selain penyelaman, kami juga menyiapkan penyisiran menggunakan alat pancing tradisional atau fisher, serta penyisiran ke arah hilir sungai jika korban diduga hanyut,” jelasnya.
Mardi menegaskan, sesuai standar operasional prosedur, pencarian akan dilakukan selama tujuh hari. Dalam operasi ini, Basarnas menurunkan enam personel yang didukung unsur TNI, Polri, relawan, masyarakat, serta keluarga korban.
“Kami berharap korban dapat segera ditemukan. Kami juga memohon doa dari seluruh masyarakat agar proses pencarian berjalan lancar,” tutupnya. (cee)



