Polemik Puskesmas Sungai Siring, Keluarga Korban Bantah Klarifikasi Puskesmas

Polemik Puskesmas Sungai Siring, Keluarga Korban Bantah Klarifikasi Puskesmas

SUNGAI SIRING. Polemik pelayanan Puskesmas Sungai Siring memanas setelah keluarga korban kecelakaan lalu lintas menuding adanya penelantaran dalam penanganan medis. Meski pihak Puskesmas Sungai Siring membantah keras tudingan tersebut, cerita memilukan dari pihak keluarga korban terus mengalir, memperkeruh suasana.

Dalam klarifikasi yang diunggah melalui media sosial resmi Puskesmas Sungai Siring pada Senin (21/10), pihak puskesmas menyatakan bahwa pasien bernama Agus (43) yang datang pada Minggu (20/10) siang tidak dalam kondisi darurat dan telah diperbolehkan pulang setelah kondisinya dinyatakan stabil. Namun, pernyataan ini seakan tidak sejalan dengan kenyataan di lapangan, menurut keluarga korban.

 

Siti Haryanti (54), bibi dari Agus, memberikan keterangan yang menyayat hati. “Saat datang, kondisi Agus sangat lemah, wajah dan kakinya luka, bahkan kepalanya pusing setelah terseret mobil dalam kecelakaan,” ungkapnya saat diwawancarai Senin (22/10). Menurutnya, Agus sempat muntah, namun tindakan medis yang diberikan oleh tim Puskesmas terkesan minim.

Lebih menyedihkan, keluarga harus menunggu selama ber jam jam untuk mendapatkan ambulans. “Pihak Puskesmas menyuruh kami mencari ambulans sendiri. Padahal, kondisi Agus sangat lemah dan perlu segera dirujuk ke rumah sakit,” tambahnya dengan nada getir. Akhirnya, sebuah ambulans relawan tiba, namun penantian panjang tersebut menyisakan luka mendalam bagi keluarga.

Kepala Dinas Kesehatan Kota, Ismid Kosasi, langsung bereaksi atas kejadian ini. “Saya sudah menghubungi pimpinan Puskesmas Sungai Siring dan memberikan teguran keras,” tegasnya. Ironisnya, setelah teguran tersebut, klarifikasi yang sempat diunggah di media sosial Puskesmas tak dapat diakses kembali, memicu spekulasi lebih lanjut tentang keseriusan Puskesmas dalam menangani masalah ini.

Kisah Agus yang dibawa dengan wajah berlumuran darah dan tubuh yang lemas menjadi potret memilukan dari pelayanan kesehatan yang dianggap tidak memadai. Kejadian ini menjadi catatan penting bagi Dinas Kesehatan dan jajarannya untuk memperbaiki layanan darurat di wilayahnya, sebelum insiden serupa kembali terjadi. (ket)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *